Kalau Kamu Merasa Lelah, Kamu Tidak Sendiri: Puluhan Ribu ASN juga Merasakan Hal yang Sama.
Ketika Interactions Berbicara
Sejak konten ini tayang, lebih dari 23.000 orang merespons. Ini bukan sekadar angka. Kita biasanya merespons sesuatu karena itu menyentuh pengalaman kita sendiri. Dan dari sini kita tahu: Dalam psikologi, ini disebut resonansi emosional kolektif, pengalaman batin yang dirasakan banyak orang, meski jarang diucapkan. Decety (2008) menjelaskan Resonansi emosional dengan kondisi saat kita langsung “sefrekuensi” dengan orang lain, tanpa proses berpikir panjang, tanpa analisis, dan tanpa disadari. Ini merupakan awal dari empati. Jika kelelahan mental bisa dirasakan bersama secara spontan oleh ribuan ASN, maka masalahnya bukan pada individu, melainkan pada sistem yang terus memproduksi kelelahan emosional.
Birokrasi: Mewarnai atau Diwarnai?
Kelelahan mental yang muncul secara massal tidak bisa dijelaskan hanya dengan “kurang kuat” atau “kurang ikhlas”. Dalam psikologi kerja, ini sering menjadi tanda adanya tekanan sistemik, cara kerja, aturan, dan kultur yang terus menguras energi psikologis.
Sebuah scoping review oleh Edgelow dkk. (2022) terhadap 97 studi tentang kesehatan mental di sektor publik menemukan bahwa sumber kelelahan paling dominan berasal dari faktor organisasi, yaitu:
Kurangnya Dukungan Atasan: 23 studi (faktor negatif organisasi yang paling sering dikutip).
Budaya Kerja Negatif: 21 studi.
Beban Kerja Tinggi: 20 studi.
Kurangnya Dukungan Rekan Kerja: 14 studI.
Artinya, kelelahan ini bukan lahir dari karakter pribadi, melainkan dari sistem yang dijalani bersama. Dan karena birokrasi dibentuk oleh manusia, ia bukan takdir yang harus diterima apa adanya, ia bisa dievaluasi, dan bisa dibentuk ulang.
Resiko Organisasi Jika Hal Ini Diabaikan
Kelelahan mental adalah inti dari burnout yang ditandai oleh kelelahan emosional, sikap menjauh dari pekerjaan, dan menurunnya rasa pencapaian.
Berbagai studi sektor publik menunjukkan bahwa ketika kondisi ini dibiarkan, dampaknya merambat ke organisasi: kualitas kerja menurun, kesalahan meningkat, dan layanan publik menjadi kurang andal (Awashreh et al., 2024). Bahkan, dalam jangka lebih panjang, kelelahan mental juga berkaitan dengan meningkatnya absensi, kepatuhan semu, dan keinginan meninggalkan organisasi, baik melalui turnover maupun permohonan mutasi (Sultan & Sultan, 2025).
Mendengar lebih awal bukan soal memanjakan pegawai. Ia adalah cara paling tenang untuk mencegah risiko organisasi menjadi krisis.
Perubahan Dimulai dari Keberanian Mendengar
Banyak hal bisa diperbaiki dalam birokrasi, tetapi tidak ada perubahan yang dapat dimulai tanpa kesediaan untuk mendengar. Mendengar bukan soal siapa yang benar atau salah, melainkan kemampuan membaca sinyal sebelum ia berubah menjadi krisis.
Di titik inilah kepemimpinan diuji, bukan pada kecepatan bereaksi, tetapi pada keberanian untuk tidak menutup telinga. Mendengar data, mendengar emosi, dan mendengar pengalaman nyata ASN. Kelelahan mental bukan tanda kelemahan individu, melainkan sinyal bahwa sistem kerja membutuhkan ruang untuk menjadi lebih manusiawi.
Yang tidak terdengar, sering kali baru terasa dampaknya belakangan.
Referensi
- Awashreh, R., & AlGhunaimi, H. (2024). Navigating Burnout in the Public Sector: Strategies for Enhancing Employee Well-Being and Organizational Performance. EVOLUTIONARY STUDIES IN IMAGINATIVE CULTURE. https://doi.org/10.70082/esiculture.vi.1855.
- Decety, Jean; Meyer, Meghan (2008). From emotion resonance to empathic understanding: A social developmental neuroscience account. Development and Psychopathology, 20(4), 1053–. doi:10.1017/S0954579408000503
- Edgelow, M., Scholefield, E., McPherson, M., Legassick, K., & Novecosky, J. (2022). Organizational factors and their impact on mental health in public safety organizations. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(21), 13993. https://doi.org/10.3390/ijerph192113993
- Sultan, S., & Sultan, L. (2025). The Integral Influence of Mental Health on Employee Well-being and Organizational Productivity in Dubai Government Companies. Saudi Journal of Business and Management Studies. https://doi.org/10.36348/sjbms.2025.v10i02.002.
Komentar
Masuk untuk ikut berdiskusi.
Masuk