Lewati ke konten
Sharing ASN

Pengalaman ASN Mengikuti KORPRI Golek Garwo pada 25 Oktober 2026

MMbak/Mas Yang Ikut KORPRI Golek Garwo ·31 Oktober 2026·4 menit baca

Pengalaman ASN | “Why Am I Here?”: Catatan dari Ajang KORPRI Golek Garwo

Begitu masuk aula Fakultas Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta pada Minggu pagi, 25 Oktober 2026, satu pertanyaan langsung muncul di kepala saya: why am I here? Di depan saya ada puluhan sesama ASN yang sama-sama datang dengan satu niat, yaitu mencari garwo alias pasangan hidup. Rasanya canggung, sedikit lucu, tapi juga bikin penasaran.

Golek Garwo adalah ajang perkenalan resmi bagi anggota KORPRI. Acara ini bukan sekadar perjodohan, karena peserta juga mendapat edukasi kesehatan dan psikologi sebagai bekal membangun hubungan yang sehat. Berikut cerita saya dari awal sampai akhir.

Daftarnya Cukup Mudah, Asal Dokumen Lengkap

Pendaftaran dilakukan lewat website golekgarwo.id (yang saya pakai di iOS) atau aplikasi Golek Garwo di Android. Prosesnya sederhana. Peserta mengunggah KK, KTP, dan SK CPNS/PNS, lalu mengisi biodata dan memilih acara yang ingin diikuti. Setelah pendaftaran disetujui, peserta menerima undangan berupa barcode yang nanti dipindai di lokasi. Syarat dokumen kepegawaian ini membuat saya cukup tenang, karena semua peserta sudah terverifikasi sebagai anggota KORPRI.

Hari H: Stiker Nama, Kubu Depan, dan Kubu Belakang

Setelah barcode dipindai, setiap peserta mendapat stiker nama untuk ditempel di baju. Tempat duduk dibagi dua. Peserta laki-laki duduk di kubu depan, sedangkan peserta perempuan di kubu belakang. Perbandingannya cukup mencolok, sekitar satu laki-laki untuk tiga perempuan.

Pesertanya juga beragam. Ada PNS sampai pegawai pemerintah desa, usianya mulai 26 hingga 57 tahun, dan instansinya dari pemerintah daerah maupun pusat. Bahkan ada yang datang jauh-jauh dari Kalimantan dan Sulawesi. Ternyata jarak memang bukan penghalang untuk ikhtiar mencari jodoh.

Acara dibuka dengan sambutan dari Fakultas Farmasi UAD selaku tuan rumah, dilanjutkan sambutan perwakilan KORPRI yang menegaskan bahwa Golek Garwo adalah acara resmi dari KORPRI pusat. Setelah itu ada sesi edukasi kesehatan tentang memilih vitamin yang tepat, serta sesi bersama konselor psikologi dari Shelter Teduh. Sesi psikologi diisi “kata-kata mutiara” dan tanya jawab ringan. Salah satu pesan yang saya ingat adalah pentingnya mengenali cara calon pasangan menghadapi konflik, mengekspresikan kemarahan, dan membicarakan soal keuangan sejak awal.

Sesi Inti: Perkenalan, “Confess”, lalu Makin Bar-Bar

Bagian paling seru dimulai saat MC mengambil alih. Satu per satu peserta maju memperkenalkan diri dengan menyebut nama, usia, status kepegawaian, asal instansi, dan target menikah. Peserta diminta memperhatikan dan mencatat nama orang yang ingin didekati. Saya sendiri hanya mendengarkan tanpa mencatat apa pun.

Setelah semua peserta memperkenalkan diri, MC meminta peserta laki-laki “confess” lebih dulu kepada peserta perempuan yang sudah mereka incar. Ada lima orang yang berani maju. Ketika giliran dibalik, ada satu peserta perempuan berusia 50-an yang dengan berani confess kepada peserta pria berusia 57 tahun. Momen itu disambut tepuk tangan dan senyum dari seluruh ruangan.

Sesi berikutnya lebih “bar-bar” lagi. MC memanggil peserta pria berdasarkan barisan duduknya (ada lima shaf) untuk langsung menghampiri peserta perempuan, berkenalan, dan meminta nomor HP atau akun media sosial. Saya baru dihampiri ketika barisan keempat dipanggil. Sementara itu, teman di sebelah saya sudah dihampiri tiga orang.

Sisi yang Membuat Hati Getir

Tidak semuanya manis. Karena jumlah peserta perempuan jauh lebih banyak, banyak dari mereka yang tidak dihampiri sama sekali. Beberapa bahkan memilih pulang lebih dulu. Melihatnya membuat saya ikut merasa sedih. Menurut saya, ini catatan penting untuk penyelenggara agar ke depan proporsi peserta lebih seimbang atau ada format perkenalan yang lebih merata.

Kesempatan Tidak Berhenti di Aula

Setelah acara pun, proses perkenalan tetap bisa berlanjut lewat aplikasi dan website. Setiap peserta mendapat kuota enam orang untuk berkenalan, dan di sana kita bisa melihat profil calon pasangan dengan akses terbatas. Saat saya cek, ada beberapa permintaan kenalan yang masuk, tapi belum ada yang saya terima karena memang belum merasa cocok. Intinya, peluang mencari kenalan terbuka dari sesi inti sampai jauh setelah acara selesai.

Catatan Akhir

Menurut saya, kunci keseruan acara ini ada pada MC-nya. MC yang luwes membuat suasana canggung berubah menjadi cair dan penuh tawa. Saya juga mengapresiasi panitia yang menjaga privasi peserta perempuan. Dalam video dokumentasi yang dirilis, peserta perempuan hanya disorot dari belakang. Peserta laki-laki? Ya, wajahnya kelihatan jelas.

Pulang dari Golek Garwo, saya memang belum membawa calon pasangan. Tapi saya membawa cerita, kenalan baru, segelas kopi, dan pelajaran bahwa ikhtiar mencari jodoh tidak perlu malu dilakukan. Apalagi kalau difasilitasi secara resmi, aman, dan terverifikasi. Bagi rekan-rekan ASN yang masih ragu, datang saja. Paling buruk, kamu pulang dengan pengalaman yang seru untuk diceritakan. Kalau masih ragu dan malu untuk datang langsung, bisa daftar juga kok ke @asnconnect

Ayo Temukan Partner Hidup Kamu

Gabung untuk berbagi cerita, info kelas, dan saling dukung.

Klik Disini

Komentar

Masuk untuk ikut berdiskusi.

Masuk

Artikel terkait

Tanya admin