Lewati ke konten
Sharing ASN

Pernah Mengalami Nggak? Dianggap Ancaman di Kantor Karena Terlalu Unggul, Terlalu Bersinar, atau Terlalu Berbeda?

TSTim Sharing ASN ·9 Maret 2026·6 menit baca

Pendahuluan

Pernahkah kamu merasakan bahwa keberhasilan yang kamu raih malah menjauhkan kamu dari rekan kerja atau bahkan dianggap sebagai ancaman? Fenomena ini dikenal dengan sebutan Tall Poppy Syndrome. Istilah ini merujuk pada kondisi dimana individu yang menonjol atau terlalu sukses cenderung “dipotong” atau bahkan disabotase oleh lingkungan sekitar. Tapi, ini bukan sekadar soal kemampuan atau prestasi yang membuat orang merasa terancam. Lebih dari itu, fenomena ini berakar pada perasaan insecure, kecemburuan, dan ketakutan terhadap perubahan yang bisa muncul dalam diri rekan kerja. Tall Poppy Syndrome seringkali lebih tentang perasaan cemas orang lain yang merasa posisinya terancam ketika seseorang tampil lebih menonjol daripada mereka.

Sindrom Tappy: Mengapa Kita Menyingkirkan Orang-Orang Berprestasi Tinggi

Saat ini, kita menyebut gagasan ini sebagai Tall Poppy Syndrome (TPS). Ini adalah naluri budaya untuk menjatuhkan orang-orang yang berprestasi tinggi untuk memastikan tidak ada yang terbang terlalu tinggi, bersinar terlalu terang, atau terlalu jauh di depan yang lain.

Pernahkah kamu merayakan kemenangan teman tetapi merasa sedikit iri? Mendengar lelucon rekan kerja ketika seseorang dipromosikan? Mungkin kamu pernah mendengar seseorang berkata, "Ya, tapi dia hanya beruntung." Itulah Tall Poppy Syndrome.

Kenapa Ini Bisa Terjadi?

  • Insecurity & Inferiority Complex: Keunggulan yang kamu miliki dapat membuat rekan kerja merasa lebih rendah atau tidak mampu, yang memicu perasaan tidak aman atau bahkan impostor syndrome.

  • Takut Tersaingi: Keberhasilan kamu dianggap sebagai ancaman bagi posisi, bonus, atau peluang promosi mereka, sehingga mereka merasa perlu menjauh atau mengkritik kamu.

  • Kecemburuan Sosial: Keberhasilan kamu sering kali menumbuhkan iri hati. Hal ini membuat rekan kerja memilih untuk menghindar atau malah bergosip di belakang kamu

  • Ketakutan akan Perubahan: Terkadang, kecepatan kamu dalam berinovasi atau berprestasi bisa membuat tim merasa terancam. Mereka mungkin lebih nyaman dengan ritme yang lambat dan biasa, dan perubahan yang kamu bawa dianggap mengganggu.

Sindrom Tappy: Bukan Tentang Kebencian tapi Tentang Ketidaknyamanan

Pada intinya, TPS bukanlah tentang kebencian melainkan tentang ketidaknyamanan. Ini adalah perasaan tidak nyaman yang kita dapatkan ketika kesuksesan orang lain membuat kita mempertanyakan posisi kita sendiri.

Tetapi jika dibiarkan tanpa kendali, hal itu menjadi kebiasaan budaya menjatuhkan orang hanya karena mereka menonjol. Para psikolog mendefinisikan "tall poppy" sebagai seseorang dengan status tinggi karena keahlian, kemampuan, ketenaran, kekayaan, atau visibilitas.

Tall Poppy Syndrome dan Prinsip Egalitarianisme di Sektor Publik

Tall Poppy Syndrome di sektor publik Indonesia berkaitan erat dengan prinsip egalitarianisme dimana banyak negara di Asia Timur termasuk Indonesia yang mengedepankan kesetaraan dan kebersamaan. Ketika individu menonjol dan mencapai kesuksesan lebih tinggi dari yang lain, hal ini bisa menciptakan ketegangan dalam lingkungan kerja yang mengutamakan keseimbangan sosial. Pegawai yang terlalu menonjol bisa dianggap mengganggu harmoni atau persatuan, terutama dalam budaya yang lebih mengedepankan kebersamaan daripada kompetisi individu. Ini bisa mengarah pada pengucilan, kritik berlebihan, atau bahkan sabotase terhadap individu tersebut.

Memang Dia Pantas Mendapatkannya

Penelitian menunjukkan bahwa kita lebih mudah menerima kesuksesan orang lain jika kita merasa mereka benar-benar pantas mendapatkannya. Namun, jika orang tersebut terlihat sombong, berbohong, atau hanya beruntung, kita cenderung merasa sah-sah saja untuk menjatuhkan mereka.

Orang yang sangat percaya pada hierarki sosial, yang dikenal dengan "orientasi dominasi sosial tinggi", lebih rentan terkena Tall Poppy Syndrome (TPS). Ironisnya, meskipun ada orang yang mengaku menghargai kesetaraan, mereka juga bisa merasa kesal saat melihat orang lain mencapai kesuksesan besar.

Bahkan, ada istilah psikologi dan kata serapan dari bahasa Jerman yang disebut Schadenfreude, yang menggambarkan rasa puas yang muncul saat melihat orang lain jatuh. Jika kita merasa mereka tidak pantas sukses, justru kejatuhan mereka bisa memberikan rasa senang tersendiri bagi kita.

Fenomena TPS di Lingkup Sosial: Private dan Public

Dr. Doug Garland, penulis buku Tall Poppy Syndrome: The Joy of Cutting Others Down, membagi TPS menjadi dua jenis:

TPS private:

Ini sering terjadi di tempat-tempat kita berinteraksi sehari-hari, seperti di keluarga, sekolah, atau kantor. Biasanya sih, bentuknya halus, tidak terlalu terlihat, dan seringkali tidak dibicarakan secara langsung.

TPS public:

Ini yang lebih sering kelihatan karena biasanya terjadi di dunia yang lebih besar, seperti selebriti, influencer, atau kisah-kisah sukses yang viral di media sosial.

TPS di Era Media Sosial

Internet benar-benar membuat Tall Poppy Syndrome (TPS) semakin parah. Coba unggah foto penghargaan atau bagikan kesuksesan bisnis, tiba-tiba kamu jadi bintang yang paling mencolok di antara yang lain. Mungkin kamu bisa menginspirasi orang, tapi tak jarang kamu malah mendapatkan reaksi negatif seperti ini:

“Pasti enak banget ya.”

“Dia sombong banget sih.”

“Halah IPK segitu doang dibanggain”

Media sosial justru menambah rasa iri dan kekhawatiran jika orang lain merasa iri. Beberapa orang bahkan memilih untuk menyembunyikan keberhasilan mereka, bahkan ada yang sampai berhenti membagikan apapun sama sekali. Takut "terlihat terlalu hebat" membuat mereka lebih memilih untuk diam.

Jadi, apa yang perlu kita lakukan?

Untuk menghadapi Tall Poppy Syndrome tanpa meredupkan keunggulan kamu, berikut adalah beberapa strategi yang bisa kamu terapkan:

  • Fokus pada Hasil (Tetap Bersinar): Jangan menurunkan standar kinerja hanya untuk diterima. Teruslah berprestasi, karena itulah nilai jual utama kamu

  • Bangun Komunikasi dan Kerendahan Hati (Rendah Hati): Tunjukkan bahwa meskipun kamu unggul, kamu tetap dapat didekati dan siap berbagi ilmu tanpa terkesan pamer.

  • Jadilah Pemain Tim: Libatkan rekan kerja dalam pencapaianmu. Gunakan kata "kita" daripada "saya" untuk meredakan rasa terancam.

  • Pasang Batasan Sehat: Jangan memaksakan diri jika mereka menjauh. Tetap fokus pada pekerjaan dan jaga hubungan profesional yang sehat.

  • Cari Dukungan di Luar Tim: Temukan mentor atau teman di divisi lain yang dapat mendukung kamu dalam perjalanan karier.

  • Dokumentasikan Pekerjaan: Pastikan semua hasil kerja kamu tercatat dengan baik. Ini akan menjadi bukti konkret dari kontribusi kamu yang tidak dapat disangkal.

Apa yang Perlu Instansi Lakukan?

Untuk menghadapi Tall Poppy Syndrome tanpa meredupkan keunggulan seseorang, berikut adalah beberapa strategi yang bisa instansi terapkan:

  • Ciptakan Lingkungan yang Kolaboratif: Fokuskan pada kerja tim dan kolaborasi, hindari persaingan yang merugikan. Dorong pegawai untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan bersama.

  • Fasilitasi Komunikasi Terbuka: Pastikan adanya saluran komunikasi yang transparan dan jelas antara semua level dalam instansi, agar setiap pegawai merasa dihargai dan didengar.

  • Berikan Penghargaan yang Adil: Hargai setiap kontribusi pegawai secara adil dan proporsional, baik dalam bentuk pengakuan atau penghargaan, untuk memotivasi mereka tanpa menciptakan kecemburuan.

  • Dukung Pengembangan Diri Secara Berkelanjutan: Sediakan kesempatan bagi pegawai untuk terus belajar dan berkembang, melalui pelatihan atau mentoring, agar mereka dapat mencapai potensi terbaik mereka tanpa merasa terancam.

Penutup: Kesimpulan

Intinya, Tall Poppy Syndrome bisa menciptakan suasana kerja yang nggak sehat karena munculnya kecemburuan dan persaingan yang tidak produktif. Instansi perlu fokus pada kolaborasi, komunikasi terbuka, dan penghargaan yang adil agar semua pegawai merasa dihargai. Dengan mendukung pengembangan diri dan mengurangi persaingan merugikan, instansi bisa menciptakan lingkungan yang positif, di mana semua orang bisa berkembang tanpa merasa terancam. Jadi, mari bangun tempat kerja yang lebih saling mendukung dan bebas dari rasa iri!


Referensi

  1. Garland, D. (2022). The Tall Poppy Syndrome: The Joy of Cutting Others Down (1st ed.). Wise Media Group.
  2. Haslam, N., & Haghani, M. (2025). Australia and New Zealand are plagued by ‘Tall Poppy Syndrome’. But would a cure be worse than the disease? The University of Melbourne. https://findanexpert.unimelb.edu.au/news/101976-australia-and-new-zealand-are-plagued-by-%E2%80%98tall-poppy-syndrome%E2%80%99.-but-would-a-cure-be-worse-than-the-disease%3
  3. Rhodes, D., Antoine, E., & Abidin, A. (2025). Cultural understandings of inclusion in Southeast Asia. International Journal of Developmental Disabilities, 71(6), 796–806. https://doi.org/10.1080/20473869.2025.2521676

Komentar

Masuk untuk ikut berdiskusi.

Masuk

Artikel terkait

Tanya admin