Lewati ke konten
Sharing ASN

Yang Paling melelahkan Bekerja sebagai ASN bukan pekerjaannya, tapi...

TSTim Sharing ASN ·26 Januari 2026·4 menit baca

Siapa yang merasa jadi ASN capek banget?

Bertahan hidup di sistem yang kacau sering membuat kita disarankan untuk “diam” dan “menurunkan idealisme”. Padahal idealisme bukan masalahnya, yang melelahkan itu ketika nilai kita terus-menerus dibenturkan dengan sistem yang tak memberi ruang. Konflik nilai (value) vs sistem birkorasi ini disebut value incongruence (Hossli, dkk., 2024). Lelah ini bukan kebetulan. Ada penjelasan psikologis di baliknya.

  1. Pada orang-orang yang punya idealisme, butuh ruang berkembang, dan suka perubahan, yaitu mereka lebih cepat lelah ketika terjebak di sistem yang kaku dan penuh tarik-menarik kepentingan (Tripathi, 2025).

  2. Penelitian Steijin & Voet (2019) menemukan bahwa semakin banyak aturan yang menghambat, semakin kecil dampak nyata yang dirasakan dari pekerjaan, semakin jauh jarak dengan orang yang sebenarnya ingin dibantu, dan ujung-ujungnya, kerja jadi nggak lagi memuaskan.

Dampak Konflik Nilai ASN

  1. Bukan sekadar “Cocok atau Nggak”, tapi terasa salah jalan. Banyak ASN masuk dengan niat ingin berdampak. Masalahnya bukan karena mereka ragu, tapi karena realitas kerja memaksa mereka bertindak berlawanan dengan nilai yang mereka pegang. Ini bukan soal belonging saja, tapi: “aku tahu yang benar, tapi nggak bisa melakukannya.” Hal itu menguras secara moral.

  2. Target bukan sekadar angka, tapi pengkhianatan kecil ke nilai. Saat tuntutan laporan, serapan, dan indikator formal menyingkirkan makna kemanusiaan, ASN tidak hanya lelah, mereka mulai merasa bersalah karena ikut menjalankan sesuatu yang terasa tidak sepenuhnya benar.

  3. Konflik etis = lelah yang tak Bisa diceritakan. Kurangnya sumber daya, struktur yang menghambat, dan aturan yang kaku membuat ASN tau apa yang dibutuhkan masyrakat tapi tidak diberi ruang melakukannya. Ini melahirkan moral distress: stres karena tidak bisa berbuat sesuai nurani, bukan karena tidak mampu.

4. Saat kebijakan tak lagi sejalan, ASN mengalami emotional withdrawal. Bukan memberontak. Bukan malas. Tapi perlahan:

  • menurunkan harapan,

  • menjaga jarak emosional,

  • bekerja sekadar agar tetap berjalan. Ini bukan kehilangan profesionalisme, tapi mekanisme bertahan hidup.

  1. Idealisme tidak padam tapi menimbulkan luka. Idealisme tidak hilang. Ia justru bertahan terlalu lama di lingkungan yang tidak memberinya ruang. Akibatnya: yang paling ingin berbuat baik, justru paling cepat terluka.

Idealisme Bukan Melawan

Idealisme adalah kompas moral, batas etika, dan alasan kenapa pelayanan publik masih manusiawi.

Yang melelahkan jadi ASN bukan idealisme itu sendiri, melainkan:

  • berpura-pura tidak peduli,

  • menekan emosi sendirian,

  • dan merasa “aku salah” hanya karena masih peduli.

Sehingga yang perlu dikelola bukan idealisme, tapi:

  • impuls,

  • emosi reaktif,

  • dan cara menyuarakan kritik agar tidak dianggap ancaman.

 

Cara ASN Bertahan Tanpa Mematikan DiriASN Bertahan Tanpa Mematikan Diri

1.Bertahan Sehat = Strategi Bersuara

·        Pisahkan identitas diri dari sistem, kritik pada sistem bukan berarti kamu ASN yang buruk. Namun, mengatur kapan bersuara dan kapan diam adalah bagian dari menjaga diri.

2.Rawat idealisme dalam bentuk kompetensi

·        Idealisme yang bertahan adalah yang diwujudkan lewat kompetensi. Terus belajar agar setiap langkah rapi, profesional, dan bertanggung jawab, bukan sekadar niat baik.

·        3.Bangun inner circle aman

Carilah inner circle aman atau layanan konseling yang tidak terafiliasi dengan kantor, seperti join grup Whatsapp Sharing ASN

4.Lakukan journaling dengan expressive writting

·        Jika belum siap bercerita, gunakan expressive writing sebagai ruang aman untuk melepas emosi dan merapikan pikiran.

Expressive Writing (EW)

Expressive writing adalah teknik menulis terstruktur di mana individu diminta menuliskan pikiran dan perasaan terdalam tentang pengalaman emosional yang signifikan dalam hidupnya, selama waktu tertentu, tanpa fokus pada tata bahasa atau kualitas tulisan Pennebaker (1997). Tujuannya bukan sekadar meluapkan emosi, tetapi:

  • membantu individu mengorganisasi pengalaman emosional ke dalam bahasa,

  • membentuk narasi yang lebih menyatu,

  • dan memproses pengalaman yang sebelumnya berantakan atau terpendam.

How it’s works?!

Pennebaker menegaskan bahwa bukan sekadar karena “curhat”.

Faktor paling menentukan adalah:

  • meningkatnya penggunaan kata-kata pemahaman dan sebab–akibat (misalnya: aku menyadari, karena, aku mengerti sekarang),

  • perubahan tulisan dari narasi yang kacau menjadi cerita yang lebih terstruktur dan bermakna.

Artinya, expressive writing bekerja karena:

pengalaman emosional yang tidak terproses diubah menjadi narasi yang bisa dipahami otak.

Langkah-langkah Expressive Writing

Waktu & Durasi

  • 15–30 menit per sesi

  • 3–5 hari berturut-turut (atau bisa 1x/minggu selama beberapa minggu)

Contoh Format Expressive Writing

Referensi

  1. Hossli, N., Natter, M., & Algesheimer, R. (2024). On the importance of congruence between personal and work values – How value incongruence affects job satisfaction: A multiple mediation model. International Journal of Wellbeing. https://doi.org/10.5502/ijw.v14i3.2905.
  2. Pennebaker, J. W. (1997). Writing about emotional experiences as a therapeutic process. Psychological Science, 8(3), 162–166. https://doi.org/10.1111/j.1467-9280.1997.tb00403.x
  3. Steijn, B., & Voet, J. (2019). Relational job characteristics and job satisfaction of public sector employees: When prosocial motivation and red tape collide. Public Administration, 97, 64-80. https://doi.org/10.1111/padm.12352.
  4. Tripathi, S. (2025). Unraveling the impact of values, perceptions and personality on job satisfaction. Management Research Review. https://doi.org/10.1108/mrr-05-2024-0312.

Komentar

Masuk untuk ikut berdiskusi.

Masuk

Artikel terkait

Tanya admin